Tampilkan postingan dengan label Perilaku Konsumen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perilaku Konsumen. Tampilkan semua postingan

Kelas Sosial

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kenyataan akan adaanya kelas social merupakan sesuatu yang seringkali tidak membuat orang merasa nyaman. Apalagi orang tersebut berada dikelas social bawah. Dalam dunia yang sudah didominasi ole hide sama rata sama rasa bahwa semua orang sama dihadapan sang pencipta, kelas social serasa patut disangkal. Akan tetapi, seperti yang dikatakan macionis (1996), setiap masyarakat ditandai dengan ketidaksamaan, kenyataannya bebrapa orang mempunyai lebih banyak daripada yang lain, lebih berpendidikan, lebih sehat dan memiliki kekuasaan yang lebih ketimbang yang lain. Itulah yang tidak dapat disangkal.

B. Permasalahan
Bagaimana ketidaksamaan dalam suatu masyarakat ini berpengaruh pada perilaku anggota-anggota masyarakat itu, terutama perilaku belinya.








BAB II
PEMBAHASAN
A. Empat prisip stratifikasi social
Stratifikasi social dibuat secara tidak sadar dengan menggunakan empat prinsip, yaitu:
1. Startifikasi social adalah cirri-ciri masyarakat, bukan hanya fungsi dari perbedaaan individu.
2. Stratifikasi social bertahan dari generasi ke generasi , terutama masyarakat yang menganut system stratifikasi yang kaku, atau dalam masyarakat yang sangat tradisional dan agraris.
3. Walalupun stratifikasi social ini bersifat universal, ada bentuk-bentuk stratifikasi yang berbeda. Ada masyarakat yang mendasaran stratifikasi pada kekayaan, ada yang pada status dan kedudukan, pendidikan dan lain-lain.
4. Stratifikasi social diwadahi dalam keyakinan yang kuat dan meliputii populasi yang luas.
Sehubungan dengan srtaifikasi social ini, dikenal system kassta dan system kelas.
- System kasta
Dalam system kasta, stratifikasi dilakukan berdasarkan kelahiran. Jadi, kecerdasan, keterampilan dan kemampuan seseorangtidak bisa amembawa dia naik ke kasta yang lebih tinggi.
- System kelas
System kelas bayak ditemukan dalam masyararakat industry karena dasar terbentuknya system ini adalah kemampuan keberhasilan individu.
Dari sudut pemikiran pemasaran, adaanya kelas social dimasyarakat manapun tidak dapat disangkal lagi. Setiap orang hidup dalam satu kelas social dan orang lain hidup dalam kelas sosisal yang lain. Kelas social secara tidak sadar membentuk dan mengarahkan pilihan dan prioritas seseorang, termasuk prioritas dalam pengambilan keputusan beli dan pemilihan produk. Oleh karena itu, tujuan sebagai pemenuhan kebutuhan orang dari kelas social yang satu akan berbeda dengan kelas social yang lain. Walaupun mempunyai kebutuhan yang sama, orang dari kelas social yang rendah akan memenuhi kebutuhannya dengfan pilihan yang berbeda daroi orang dari kelas social yang lebih tinggi.dengan kata lain, perilaku beli konsumen ditentukan oleh kelas sosialnya.
Kelas social memiliki tingkaotan- tingkatan dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Orang dari kelas sosial tertentu menganggap orang dari kelas social yang lain memiliki status yang lebih tinggi atau lebih rendah dari dirinya.
Dapat disimpulkan bahwa kelas social:
- Memiliki variable kelompok
- Hierarki yang relative permanen
- Ada nilai-nilai yang sama dalam satu kelas
- Interaksi yang terbatas antar kelas
- Peningkatan kelas seseorang merupakan proses yang lambat.
- Kelas social adalah sesuatu yang multidimensional, dan tidak dapat diidentifikasikan hanya dengan pendapatan.
Kelas social yang berlapis-lapis merupakan dasar alami untuk segmentasi pasar , sehingga produk, jalur distribusi, dan pesan-pesan promosi dapat dirnacang khusus sesuai dengan sasaran pasar atau dalam hal ini kelas social sasaran. Di samping itu, karena setiap kelas social memiliki nilai-nilai, sikap dan pola perilaku yang seragam dan antara satu kelas sosial dengan kelas sosial yang lain ada perbedaaan yang nyata, para ahlimenghubungkan perbedaan ini dengan perbedaan sikap konsumen terhadap suatu produk dan meneliti pengaruh kelas sosial ini terhadap konsumsi yang sebenarnya.
B. Kategori kelas social
Para ahli belum sependapat mengenai pembagian kelas social menurut kategori. Ada yang membagi menjadi dua , tiga sampai, Sembilan kelas social.
C. Pengukuran kelas social
Ada tiga kategori cara-cara mengukur kelas social:
1. Dengan ukuran subyektif dimana orang diminta untuk menentukan sendiri kelas sosialnya.
2. Ukuran reputasi ditentukan oleh orang lain diluar lingkungannya.
3. Ukuran obyektif didasarkan atas variable sosioekonomik seperti pekerjaaan , besar pendapatan dan pendidikan.
D. Profil gaya hidup kelas-kelas social
Untuk memudahkan pemahaman tentang kelas social ini dapat dirinci sebagai berikut:
1. Kelas atas-atas
2. Kelas atas bawah, yang baru saja memiliki kekayaan
3. Kelas menengah atas
4. Kelas menengah bawah
5. Kelas bawah atas


E. Mobilitas kelas social
Seseorang tidak selalu berada dalam kelas social yang sama. Kadang-kadang kelas sosialnya meningkat dibandingkan kelas social orangtuanya. Hal ini bisa disebabkan oleh tingkat pendidikan yang dicapai, pengembangan pribadi dan keberhasilan dalam hidupnya. Adanya kemungkinan mobi;litas keatas menyebabkan orang dari kelas social yang lebih tinggi menjadi kelompok acuan bagi mereka yang lebih rendah . tatapi seperti diuraikan sebelumnya proses mobilitas kelas sosialo ini berjalan lambat.
F. Sebaran Geodemografik
Sebaran geodemografik mengidentifikasikan konsentrasi konsumen dengan data sosioekonomikdan demografik yang relative sama.
G. The Affluent (berlebihan)
Segmen ini sngat berarti dalam pemasaran produk-produk dengan harga tinggi. Orang-orang tergoloong berkelebihan membelanjakan uang mereka untuk produk-produk ekstra seperti berlayar dengan kapal pesiar, mobil-mobil sport dan perhiasan yang mahal. Media habits mereka juga berbeda. Untuk membantu para pemasar untuk pasar affluent ini , mediamark research , inc. mengembangkan skema segmentasi pasaar affluent yang merupakan rumah tangga dengan penghasilan 10% tertinggi.





BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kelas social merupakan kenyataan yang tidak bisa disangkal lagi. Betapapun ditolaknya keberadaan kelas social ini, perbedaan-perbedaan yang menindikasikan adanya kelas social ini selalu saja ada. Kelas social dibagi menjadi bebrapa kategori, masing-masing menunjukkan adanya jenjang-jenjang dalam masyarakat. Pengukuran kelas social dilakukan berdasarkan dimensi-dimensi tertentu seeperti pendapatan, pendididkan dan kedudukan. Oleh karena itu, ada mobiloitas dari kelas social yang satu kekelas social yang lain. Pamasar banyak menggunakan kelas social sebagai dasar segmentasi pasar, dan manfaatnya sudah banyak terbukti. Perbedaan kelas social ditunjukan dalam perilaku para anggotanya, misalnya dalam hal dekorasi rumah, pakaian, kegiatan waktu senggang, kebiasaan berbelanja, kebiasaan media dan lain sebagainya.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentunya terdapat beanyak keurangan utnuk itu kami membuthkan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya kesempurnaan makalah ini.

Kepemimpinan Pendapat

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kajian dasar tentang perilaku konsumen dan peran pengetahuan tentang perilaku konsumen dalam pemasaran, untuk itu perlu dilihat pendekatan-pendekatan perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu dan demi kedalaman uraian tentang perilaku konsumen ditentukan dulu teba telaah perilaku konsumen yang dilukiskan dalam suatu model perilaku konsumen. Sebagai disiplin Ilmu, sudah tentu perilaku konsumen tidak bisa berdiri sendiri, tetapi terkain dengan displin ilmu yang lain.

B. Identifikasi masalah
Bagaimana kajian dan pemahaman dalam perilaku konsumen serta keterkaintannya dengan disiplin ilmu yang lain.











BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep perilaku konsumen
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya (schiffman dan kanuk 2000).
Ada bebrapa hal penting yang bisa diambil dari definisi diatas yaitu:
1. Tahap Perolehan (acquision): mencari (searching) dan membeli (purchasing)
2. Tahap konsumsi (consumption): menggunakan (using) dan menevaluasi (evaluating)
3. Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan konsumen setelah produk digunakan atau di konsumsi.

Unit-unit pengambilan keputusan beli (decision units) menurut kotler (1991) terdiri dari:
1. Konsumen individu yang membentuk pasar konsumen (consumer market)
2. Konsumen organisasional yang membentuk pasar bisnis ( business market)
Adapun konsep personal consumer dalam definisi tersebut bisa diperjelas sebagai berikut, mereka adalah individu yang membeli bvarang dan jasa untuk:
1. Dirinya sendiri
2. Memenuhi kebutuhan keluarga
3. Dijadikan hadiah untuk orang lain.
Jadi personal consumers membeli produk untuk penggunaan pribadi sehingga personal merupakan pengguna akhir (end user atau ultimate consumers). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan semua kegiatan dalam proses manajemen pemasaran, pamasar perlu mengetahui perilaku konsumen. Sasarannya supaya kiat-kiat pemasaran yang dilakukan benar-nbenar mengarah pada profitability perusahaan.
B. Alasan mempelajari perilaku konsumen
Ada sejumlah alasan mendasar mengapa perilaku konsumen dipelajari:
1. Konsumen dengan perilakunya (terutama perilaku beli) merupakan wujud dari kekuatan tawar yang merupakan salah satu kekuatan kompetetif yang menentukan intensitas persaingan dan profitability perusahaan.
2. Analisis konsumen adalah landasan manajemen pemasaran dan membantu manajer dalam hal:
a. Merancang baur pemasaran
b. Melakukan segmentasi pasar
c. Melaksanakan positioning
d. Melakukan analisis perusahaan
e. Melakukan trend penelitian pasar
f. Mengembangkan prosuk baru maupun inovasi prosuk lama.
3. Analisis konsumen memainkan peran sangat penting dalam pengembangan kebijakan public.
4. Pengetahuan konsumen dapat meningkatkan kemampuan pribadi seseorang untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
5. Analisis konsumen memberikan pemahaman tentang perilaku manusia. Yaitu:
a. Orientasi konsumen
b. Fakta tentang perilaku beli
c. Teori-teori yang menuntun proses berfikir.

C. Pendekatan konsumen sebagai disiplin ilmu
Ada tiga pandangan yang berbeda dalam pendekatan perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu.
1. Pandangan biologic
Titik tolak dari pandangan ini adalah fakta-fakta biologis yang dianggap amat penting dalam menentukan siapa seorang individu dan apa yang dia lakukan.
2. Pandangan intra physic
Menurut pandangan ini, factor-faktor biologis dapat menjelaskan kesalahan perilaku seseorang yang dikendalikan oleh psyche.
3. Pandangan socio behavorial
Inti dari pandangan ini adalah bahwa tindakan atau emosi seseorang dapat dipahami melalui pengetahuan tentang apa yang telah dipelajari ari lingkungan sosialnya.



D. Teba telaah mengenai perilaku konsumen
Perhatian perilaku konsumen berpusat bagaimana konsumen secara individu membuat keputusan beli dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia yaitu waktu, uang, dan upaya untuk ditukar dengan barang yang dikonsumsi. Oleh karena itu, semua factor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan beli, mengkonsumsi dan membuangnya akan menjadi pokok kajian ilmu perilaku konsumen.

E. Pengaruh ilmu lain dalam mempelajari perilaku konsumen
Mempelari perilaku tidak terlepas pengetahuan yang mendasar perilaku itu sendiri, yang mencakup beberapa cabang psikologi. Hal ini lebih menonjol dalam telaah perilaku konsumen secara individu. Dalam kehidupan konsumen dengan lingkungan sosialnya, acuannya adalah ilmu sosiologi dan demografi. Tinjauan tentang konsumen dalam lingkungan budayanya, peran peran ilmu seperti sejarah, budaya, anthropologi dan geografi tidak dapat diabaikan. Karena perilaku konsumen ini berfokus pada perilaku sepanjang proses membeli, yang didalamnya juga termasuk transaksi maka ekonomi juga digunakan sebagai acuan penting.







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku konsumen dimaknadi sebagai suatu proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Inilah sebabnya perilaku konsumen perlu dipelajari.
Dalam mempelajari perilaku konsumen ada beberapa pendekatan yaitu: biologic, intra physic, dan socio behavorial. Pendekatan-pendekatan ini perlu digunakan bersama sebagai sebuah pendekatan holistic yang juga memnfaatkan informasi dari ilmu-ilmu lainnya.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah, sebagai manusia biasa yang tidak sempurna tentunya tidak sempurna pula dalam pembuatan makalah ini, untuk itu kritik dan saran yang membagun sangat diharapkan demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

Perilaku konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Kajian dasar tentang perilaku konsumen dan peran pengetahuan tentang perilaku konsumen dalam pemasaran, untuk itu perlu dilihat pendekatan-pendekatan perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu dan demi kedalaman uraian tentang perilaku konsumen ditentukan dulu teba telaah perilaku konsumen yang dilukiskan dalam suatu model perilaku konsumen. Sebagai disiplin Ilmu, sudah tentu perilaku konsumen tidak bisa berdiri sendiri, tetapi terkain dengan displin ilmu yang lain.

B. Identifikasi masalah
Bagaimana kajian dan pemahaman dalam perilaku konsumen serta keterkaintannya dengan disiplin ilmu yang lain.











BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep perilaku konsumen
Perilaku konsumen adalah proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi, dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya (schiffman dan kanuk 2000).
Ada bebrapa hal penting yang bisa diambil dari definisi diatas yaitu:
1. Tahap Perolehan (acquision): mencari (searching) dan membeli (purchasing)
2. Tahap konsumsi (consumption): menggunakan (using) dan menevaluasi (evaluating)
3. Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan konsumen setelah produk digunakan atau di konsumsi.

Unit-unit pengambilan keputusan beli (decision units) menurut kotler (1991) terdiri dari:
1. Konsumen individu yang membentuk pasar konsumen (consumer market)
2. Konsumen organisasional yang membentuk pasar bisnis ( business market)
Adapun konsep personal consumer dalam definisi tersebut bisa diperjelas sebagai berikut, mereka adalah individu yang membeli bvarang dan jasa untuk:
1. Dirinya sendiri
2. Memenuhi kebutuhan keluarga
3. Dijadikan hadiah untuk orang lain.
Jadi personal consumers membeli produk untuk penggunaan pribadi sehingga personal merupakan pengguna akhir (end user atau ultimate consumers). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa untuk melaksanakan semua kegiatan dalam proses manajemen pemasaran, pamasar perlu mengetahui perilaku konsumen. Sasarannya supaya kiat-kiat pemasaran yang dilakukan benar-nbenar mengarah pada profitability perusahaan.
B. Alasan mempelajari perilaku konsumen
Ada sejumlah alasan mendasar mengapa perilaku konsumen dipelajari:
1. Konsumen dengan perilakunya (terutama perilaku beli) merupakan wujud dari kekuatan tawar yang merupakan salah satu kekuatan kompetetif yang menentukan intensitas persaingan dan profitability perusahaan.
2. Analisis konsumen adalah landasan manajemen pemasaran dan membantu manajer dalam hal:
a. Merancang baur pemasaran
b. Melakukan segmentasi pasar
c. Melaksanakan positioning
d. Melakukan analisis perusahaan
e. Melakukan trend penelitian pasar
f. Mengembangkan prosuk baru maupun inovasi prosuk lama.
3. Analisis konsumen memainkan peran sangat penting dalam pengembangan kebijakan public.
4. Pengetahuan konsumen dapat meningkatkan kemampuan pribadi seseorang untuk menjadi konsumen yang lebih efektif.
5. Analisis konsumen memberikan pemahaman tentang perilaku manusia. Yaitu:
a. Orientasi konsumen
b. Fakta tentang perilaku beli
c. Teori-teori yang menuntun proses berfikir.

C. Pendekatan konsumen sebagai disiplin ilmu
Ada tiga pandangan yang berbeda dalam pendekatan perilaku konsumen sebagai disiplin ilmu.
1. Pandangan biologic
Titik tolak dari pandangan ini adalah fakta-fakta biologis yang dianggap amat penting dalam menentukan siapa seorang individu dan apa yang dia lakukan.
2. Pandangan intra physic
Menurut pandangan ini, factor-faktor biologis dapat menjelaskan kesalahan perilaku seseorang yang dikendalikan oleh psyche.
3. Pandangan socio behavorial
Inti dari pandangan ini adalah bahwa tindakan atau emosi seseorang dapat dipahami melalui pengetahuan tentang apa yang telah dipelajari ari lingkungan sosialnya.



D. Teba telaah mengenai perilaku konsumen
Perhatian perilaku konsumen berpusat bagaimana konsumen secara individu membuat keputusan beli dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia yaitu waktu, uang, dan upaya untuk ditukar dengan barang yang dikonsumsi. Oleh karena itu, semua factor baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi seseorang dalam membuat keputusan beli, mengkonsumsi dan membuangnya akan menjadi pokok kajian ilmu perilaku konsumen.

E. Pengaruh ilmu lain dalam mempelajari perilaku konsumen
Mempelari perilaku tidak terlepas pengetahuan yang mendasar perilaku itu sendiri, yang mencakup beberapa cabang psikologi. Hal ini lebih menonjol dalam telaah perilaku konsumen secara individu. Dalam kehidupan konsumen dengan lingkungan sosialnya, acuannya adalah ilmu sosiologi dan demografi. Tinjauan tentang konsumen dalam lingkungan budayanya, peran peran ilmu seperti sejarah, budaya, anthropologi dan geografi tidak dapat diabaikan. Karena perilaku konsumen ini berfokus pada perilaku sepanjang proses membeli, yang didalamnya juga termasuk transaksi maka ekonomi juga digunakan sebagai acuan penting.







BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Perilaku konsumen dimaknadi sebagai suatu proses yang dilalui oleh seseorang dalam mencari, membeli, menggunakan, mengevaluasi dan bertindak pasca konsumsi produk, jasa maupun ide yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya. Inilah sebabnya perilaku konsumen perlu dipelajari.
Dalam mempelajari perilaku konsumen ada beberapa pendekatan yaitu: biologic, intra physic, dan socio behavorial. Pendekatan-pendekatan ini perlu digunakan bersama sebagai sebuah pendekatan holistic yang juga memnfaatkan informasi dari ilmu-ilmu lainnya.

B. Saran
Dalam pembuatan makalah, sebagai manusia biasa yang tidak sempurna tentunya tidak sempurna pula dalam pembuatan makalah ini, untuk itu kritik dan saran yang membagun sangat diharapkan demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

Strategi Pemasaran Dan Perilaku Konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar belakang
Kiat berkreasi dan berinovasi untuk memenangkan persaingan dalam merebut konsumen memerlukan perancangan strategi pemasaran yang tepat. Untuk itu, perlu diketahui terlebih dahulu tentang apa itu strategi pemasaran yang tepat, strategi pemasaran itru sendiri terdiri dari segmenting, targeting, dan positioning yang ditinjau dalam hubungannya dengan pemahaman perilaku konsumen.
2. Permasalahan
Bagaimana strategi segmenting, targeting, positioning yang ditinjau dalam hubungannya dengan pemahaman perilaku konsumen.














BAB II
PEMBAHASAN
1. Konsep strategi pemasaran
Menurut Peter dan Olson (1999) strategi pemasaran dirancang untuk meningkatkan peluang dimana konsumen akan memiliki anggapan dan peranan positif terhadap produk, jasa dan merek tertentu, akan mencoba produk, jasa atau merk tersebut dan kemudian membelinya berulang-ulang.
Untuk mengembangkan strategi pemasaran yang kompetetif, pemasar perlu mengetahui konsumen mana yang membeli produknya, factor apa yang kira-kira menyebabkan mereka menyukai produk tersebut, criteria apa yang dipakai dalam memutuskan membeliproduk, bagaimana mereka memperolah informasi tentang produk dan lain sebagainya.
Pemasar perlu merancang strategi berdasarkan perilaku konsumen, yang tentu saja datanya hanya dapat diperoleh dari semua penelitian tentang perilaku konsumen; mulai dari bagaimana kebutuhan akan suatu produk tiu dirasakan, apa yang dilakukan untuk memenuhi kebutuhan itu, bagaimana mereka memutuskan membeli produk, bagaimana mereka mengkonsumsi produk, sampai bagaimana mereka menyingkirkan produk tersebut dan apa yang dilakukan setelah itu. Jadi, strategi pemasaran berlaku untuk produk dan merek tertentu dan pengaruh yang diberikan kepada konsumen untuk melakukan pembelian yang dirancang untuk tingkat produk ataupun merek. Agar perancang bisa merancang strategi yang tepat dalam mempengaruhi konsumen, dasar yang digunakan ahrus berupa pengetahuan mengenai perilaku mereka dalam proses beli yang dialami untuk suatu kategori produk tertentu pula.

2. Peran perilaku konsumen dalam segmenting dan targeting
Segmentasi pasar adalah proses identifikasi subkelompok konsumen yang memiliki kesamaan dalam nhal keinginan, daya beli, lokasi geografi, sikap membeli atau kebiasaan membeli (kotler,2000). Penelitian yang mendalam tentang konsumen bias menghasilkan identifikasi sedemikian khususnya, sehinggan konsumen dapat disegmentasi secara individu karena pada dasarnya tidak ada dua orang yang sama. Cara segmentasi ini disebut juga segmentasi mikro yang banyak dilakukan untuk produk-produk yang tidak begitu tersandarisasi, seperti jasa atau layanan tertentu. Perusahaan pada umumnya tidak melakukan hal tersebut karena memerlukan biaya yang besar. Mereka membuat segmentasi berdasarkan respons konsumen secara umum sehingga produk bias diproduksi secara missal menggunakan skala ekonomi untuk keuntungan maksimal.
Dalam segmentasi pasar, ada empat langkah yang harus diambil (Hawkins dkk, 1998):
1. Mengidentifikasi perangkat kebutuhan produk
2. Mengelompokkan konsumen yang memiliki perangkat kebutuhan yang serupa.
3. Mendeskripsikan setiap kebutuhan kelompok.
4. Memilih satu (atau lebih) segmen yang akan dilayani.
Identifikasi perangkat kebutuhan produk tentu saja memerlukan data cukup lengkap yang hanay didapatkan dari penelitian pasar. Data semacam itu diambil dari pengamatan dan pendapat-pendapat konsumen dan cara mereka memenuhi kebutuhan. Data ini dikaitkan dengan berbagai variable seperti usia, jenis kelamin, kelas social, dan sebagainya. Dalam hal ini, data menunjukkan perilaku yang berbeda antara kelompok satu dengan yang lain. Setelah itu dapat diidentifikasi pula subkelompok konsumen yang memiliki perangkat kebutuhan yang serupa.

Targeting merupakan langhkah untuk memilih satu (atau lebih) segmen yang dapat dilayani dengan baik, sehingga semua usaha pemasaran dapat difokuskan pada segmen ini untuk keuntungan yang menjanjikan. Perusahaan dapat melayani segmen sasaran dengan baik bila kiat-kiat yang dirancang sesuai dengan kemampuan perusahaan itu. Kadang-kadang dalam proses segmentasi initeridentifikasi juga segmenyang khas walaupun kecil. Segmen kecil ini seringkali sangat sesuai dengan kemampuan Perusahaan dan mempunyai potensi yang besar untuk penetapan harga premium. Jelasalah bahwa segmenting dan tergetingtidak bias terlepas dari pemahaman tentang perilaku konsumen, bahkan tampak jelasa sekali bahwa segmenting dan targeting selalu didasarkan pada penelitian perilaku konsumen.

3. Perilaku konsumen dan positioning produk
Dalam usaha membuuat positioning produk yang tepat, perusahaan/pemasar tidak dapat mengabaikan perilaku konsumen, terutama konsumen sasarannya.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Strategi pemasaran dirancang sedemikian rupa supaya tercapai keunggulan kompetetif dari produk, merek, ataupun perusahaan. Dengan demikian, jelas sekali pentingnya pemahaman perillaku konsumen. Untuk memperjelas hubngan antara perilaku konsumen dengan strategi pemasaran lihat gambar dibawah ini:

Difusi Inovasi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Perkenalan atau peluncuran produk baru selalu merupakan kegiatan yang difikirkan masak-masak, direnacnakan dan dilakukan dengan cermat dan hati-hati. Perkenalan produk baru bertujuan agar produk itu bisa diterima oleh konsumen, diminati dan disukai sehingga bisa menghasilkan pembelian seperti yang diinginkn pemasar.
B. Permasalahan
Bagaimana proses difusi dari inovasi produk/ jasa dan profil innovator yang menjadi sasaran pamasar dalam peluncuran produk baru.
- Konsep produk baru menurut orientasi yang berbeda dan kategori inovasi













BAB II
PEMBAHASAN
A. Inovasi dan difusi inovasi
Empat kata kunci dalam proses difusi inovasi adalah:
1. Inovasi
Beberapa penulis (schiffman dan kanuk,2000, Solomon, 1999 dan Hawkins dkk, 1998) sepakat bahwa inovasi adalah produk atau jasa yang dipersepsi oleh konsumen sebagai produk atau jasa baru.
Derajat kebaruan produk dibedakan antara:
a. Produk yang sebelumnya belum pernah ada dimanapun.
b. Lini produk baru
c. Produk dengan inovasi simbolik yang mengkomunikasikan arti social yang barubagi produk yang bersangkutan
d. Produk dengan inovasi teknologi yang memberikan perubahan fungsional pada produk semula.
e. Inovasai dalam bidang ritel seperti yang dilakukan dalam pelbagai macam bentuk multilevel marketing.
f. Inovasi atau produk baru juga dijelaskan dari sudut pandang orientasi pengguna produk.
2. Difusi
Difusi inovasi adalah proses dimana produk baru, jasa, maupun ide baru (atau suatu inovasi) menyebar melalui komunikasi keanggota anggota system social atau populasi dalam jangka waktu tretentu.
3. Difusi melalui jalur komunikasi
Kecapatan penyebaran inovasi produk tergantung pada komunikasi antara pemasar dan konsumen, dan juga komunikasi antar konsumen itu sendiri. Dampak dari semua ini adalah apakah produk bisa diterima atau ditolak. Innovator dan early adopters, yaitu orang yang lebih cepat menerima inovasi, berperan besar sebagai perantara komunikasi kepada later adopter. Inovator dan early adopter berfungsi sebagai pemimpin pendapat yang menyebarkan informasi kepada konsumen dan mempengaruhi keputusan beli mereka. Kecepatan difusi sangat ditentukan oleh keberadaan dan kecanggihan system dan jalur komunikasi di suatu pasar.



4. Difusi melalui system social
Difusi produk baru terjadi didalam latar belakang social yang sering disebut sebagai system social. System social adalah lingkungan fisik, social, atau budaya, dimana seorang hidup dan berfungsi. Suatu system social memiliki nilai-nilai dan norma yang berbeda dari systemsosial yang lain. Nilai-nilai dan norma itu mempengaruhi anggota-anggota system social itu dalam halkesediaan mereka untuk menerima suatu inovasi. System social tradisional yang lebih lambat menerima inovasi daris pasda system social yang modern. Pemasar harus berorientasi pada system social dalam memperkenalkan produk baru sehingga dapat dighunakan strategi yang mengena untuk system social tersebut.
5. Difusi melalui waktu
Waktu merupaka tulang punggung proses difusi. Waktu selalu diperhitungkan dalam tiga cara yang berbeda untuk menjelaskan difusi dan tidak berhubungan satu dengan yang lain.
a. Waktu membeli; asdalah jangka waktu yang dihabiskan dari awal mula konsumen menyadari akan keberadaan produk sampai waktu dia membeli atau menolak produk tersebut.
b. Identifikasi kategoti adaptor mencakup; innovator, early adopter, early majority, late majority dan laggards.
c. Kecepatan adopsi; adalah seberapa cepat produk baru diadopsi oleh anggota dari suatu system social.
B. Proses adopsi
Proses difusi sangat tergantung pada informasi produk atau jasa baru yang disampaikan kepada konsumen. Dalam hal ini, konsumen bisa sampai pada keputusan adopsi produk atau jasa baru melalui proses yang hamper sama dengan prose keputusan beli, yaitu sadar akan kebutuhan produk, mencari informasi, evaluasi, percobaan dan akhirnya di adopsi.
bila proses adopsi ini dihubunhgkan dengan waktu, maka innovator merupakan kelompok pertama yang mengadopsi produk baru, diikuti oleh early majority, dan late majority, sedangkan laggards adalah mereka yang mengadopsi produk paling lama setelah saat perkenalan produk. Dimensi waktu juga menggambarkan apakah inovasi cepat diadopsi suatu system social.
Para peneliti difusi produk mengungkapkan beberapa factor penentu yang mendukung atau menghambat penerimaan konsumen akan produk baruantara lain:
\
1. Cirri-ciri kelompok atau system social
2. Adanya kebutuhan dan keinginanyang kuat
3. Manfaat relative
4. Kesesuaian
5. Kompleksitas
6. Dapat atau tidaknya dicoba
7. Nayata atau tidaknya manfaat atau keistimewaaan produk dimata konsumen.
C. Hubungan antara strategi pemasaran dengan proses difusi
a. Segmentasi pasar
Segmentasi yang dilakukan pemasar tidak hanya cukup dengan patokan-patokan demogeografi, kelas social, dan sebagainya. Setelah ditentukan segmen pasar dan segmen sasaran yang akan dilayani, pemasar harus mencari para innovator dan early adopters dalam segmen sasaran itu.
b. Strategi untuk mempercepat difusi
Untuk mempercepat difusi difusi pemasar harus melakukan kegiatan yang benr-benar dapat menggugah calon konsumen untuk memperhatikan produk, mempertimbangkan dan akhirnya membeli. akan tetapi, bila proses tersebut memakan waktu yang relative lama, pesaing akan cepat menyerang dan mengambial alih peran.
D. Profil innovator
1. Mereka adalah kelompok kecildari konsumen yang merupakan pembeli awal produk baru
2. Mereka mempunyai minat yang cukup berarti pada kategori produk.
3. Mereka adalah pemimpin pendapat
4. Mereka mempunyi cirri-ciri kepibradian sebagai berikut:
- Tidak dogmatis dibandingkan dengan non innovator.
- Mengandalkan nilai-nilai atau patokan sendiri bukan orang lain
- Menganut dan nberminat pada kategori produk yang lebih luas
- Tertarik pada keanekaragaman produk
5. Senang berpetualang
6. Mereka tidak loyal pada merek
7. Suka memanfaatkan penawaran intimewa dalam promosi
8. Menggunakan produk dalam jumlah banyak.
9. Suka membaca majalah yang berfokus pada minat khusus tetapi kurang suka menonton televisi.
10. Mereka terlibat dalam lebih banyak kelompok social.
11. Cenderung masih muda, memiliki pendidikan formal yang lebih tinggi, pendapatan yang lebih tinggi dan cenderung mendudukistatus profesi yang lebih tinggi.



















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Inovasi adalah sesuatu yang dipersepsi oleh konsumen sebagai sesuatu yang baru. Inovasi ternyata tidak mudah diterima oleh system sosial yang menjadi sasaran pemasaran.
Penerimaan suatu inovasi dalam system social tertentu disebut difusi. Proses difusi sangat tergantung pasda komunikasi informasi yang berasal dari perusahaan atau pemasar. Pemasar bisa melakukannya dengan sasaran, atau komunikasi dua tahap, yanitu komunikasi yang ditujukan langsung kepada innovator. Selanjutnya innovator menyampaikannnya kepada konsumen secara umum. Pemasar bisa juga menggunakan komunikasi tahap ganda, dimana innovator menyebarkan informasi dengan menggunakan medioa massa sebalum sampai kepada konsumen sasaran.
B. Saran

Persepsi Konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Persepsi merupakan cara pandang orang memandang dunia ini (schifmann dan kanuk (2000)). Dari definisi yang umum ini dapat dilihat bahwa persepsi seseorang kan berbeda dari yang lain. Media massa dengan segala bentuknya dapat membentuk persepsi yang serupa antar warga kelompok masyrakat tertentu. Dalam hal pemasaran pengaruh media iklan di media masssa, kemasan prosuk, papan reklame, dan sebagainya mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu produk atau merek.
Ries dan trout (1987) mengatakan bahwa pemasaran adalah peprangan antar produsen untuk memperebutkan persepsi konsumen. Begitu pentingnya persepsi dibenak konsumen, sehingga bermacam-macam strategi dibentuk dn dirancang perusahaan supaya produk atau mereknya bisa menjadi nomor satu dibenak konsumen.
B. Permasalahan
Dalam merebut persepsi konsumen diperlukan berbagai analisis mendalam terhadap kebutuhan mana yang paling dibutuhkan oleh konsumen, dan bagaimana pula perusahaan melkukan sesuatu untuk merebut persepsi konsumen ini. Selain itu bagaimana konsumen mengatasi resiko-resiko yang ditawarkan oleh pemasar.





BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep persepsi
Solomon (1999) mendefinisikan persepsi sebagai proses dimana sensasi yang diterima oleh seseorang dipilih dan dipilah, kemudian diatur dan akhirnya diinterpretasikan.
Ada bebrapa factor yang mempegaruhi pembentukan persepsi seseorang, yaitu:
1. Factor internal
a. Pengalaman
b. Kebutuhan saat itu
c. Nilai-nilai yang dianutnya
d. Ekspektasi/pengharapannya
2. Factor eksternal
a. Tampilan produk
b. Sifat-sifat stimulus
c. Situasi lingkungan
Ries dan trout (1986: 44) mengatakan bahwa “the consumer mind” yang menggarap persepsi manusia itu adalah medan perang pemasaran terutama dalam kiat-kiat positioning, positioning adalah kiat mempengaruhi dan membentuk persepsi konsumen terhadap produk atau merek yang diperkenalkan. Untuk memenangkan persaingan itu, maka positioning prosuk harus dirancang sedemikian rupa sehingga input sensai yang ditimbulkan olah berbagai bentuk komunikasi pemasaran benar-benar mengena, dalam arti dapat diterima system sensorik konsumen atau prospek dan diinterpretasikan seperti yang dingini oleh pamasar.
B. Persepsi subliminal
Lefton (1982) mengartikan persepsi subliminal sebagai persepsi terhadap stimulus yang diberikan dibawah tingkat ambang rangsang sehingga penerima tidak sadar akan adanya stimulus itu. Pada umumnya pemasar ingin mempengaruhi konsumen dengan memberikan stimulus sensorik diatas ambang rangsangnya. Akan tetapi tidak semua stimulus/komunikasi pemasaran dibuat agar jatuh diatas ambang rangsang. Bebrapa iklan justru memberikan stimulus dibawah ambang rangsang yang disebut subliminal.
Pengaruh melalui subliminal tidak mudah dibuat karena pemasar tidak mau menanggung resiko yang terlalu besar. Resiko itu termasuk kalau pemirsa tidak bisa menanghkap gambar atau tulisan yang cepat atau samar-samar. Kemampuan menangkap pesan pemasar yang demikian tergantung banyak factor, seperti jarak tv dengan pemirsa, posisi pemirsa didepan televise, dan masih banyak lagi hal yang bersifat individual.
C. Persepsi dan selektifitas
Persepsi adalah fenomena yang selektif. Karena kapasitas memori dalam otak manusia terbatas, maka seseorang cdenderung menyaring stimulus yang dihadapi, memilah dan memilih stimulus yang mana yang disimpan dalam memori. Oleh karean itu, selektifitas sensorik manusia menjadi semakin meningkat.
1. Selective exposure, orang cenderung mengabaikan stimulus yang menyebabkan kekuatiran, ketidaknyamanan dan yang tidak penat. Istilah-istilah yang perlu dalam eksposure yang selektif ditelevisi maupun dimedia massa antara lain:
a. Zipping; memindah saluran pada saat iklan dalam interlude sebuah film kesayangan atau acara kesayangan.
b. Zapping; sama sekali tidak mau melihat iklan, misalnya pada waktu membaca majalah.
c. Muting; mengecilkan atau mematikan volume televise maupun radio pada waktu ada iklan.
2. Selective attention; orang cenderung selektif dalam perhatiannya pada atau keterlibatannya dengan stimulus-stimulus yang berbeda.
3. Selective interpretation; stimulus yang diterima akan diinterpretasikan secara lebih subyektif.
4. Selective retention; untuk efisiensi orang yang melupakan, menyaring, atau gagal untuk menyimpan stimulus yang prioritasnya rendah atau tidak penting.
Perhatian juga selektif dalam hal cara konsumen merespon stimulus yang dihadapi, seperti konsumen berada digerai dengan banyak kategori produk yang dipajang.
D. Dinamika persepsi
Stimulus mana yang akan lulus seleksin oleh seorang individu tergantung pada:
1. Sifat-sifat stimulus.
Factor stimulus yang penting dalam persepsi konsumen adalah:
a. Contrast; merupakan atribut stimulus yang paling kuat. Contrast menguatkan persepsi dengan menonjolkan perbedaan intensitas stimulus itu.
b. Closure; merupakan kecenderungan orang untuk mengisi, secara persepsi, bagian yang hilang dari stimulus yang tidak lengkap.
c. Proximity; menurut prinsip kedekatan, benda atau artikel yang berdekatan satu sama lain dalam wawasan waktu maupun ruang akan dipersepsi sebagai bagian-bagian yang berhubungan dari suatu pola atau konfigurasi.
d. Similarity (grouping); dalam suatu konglomerasi stimulus, orang akan mempersepsi obyek-obyek yang kelihatan sama menjadi satu kelompok.
e. Ukurnan, warna, posisi dan usia dari stimulus itu.
2. Expectation (harapan) konsumen
Sehubungan dengan pembentukan ekspektasi ini disimpulkan bahwa stimulus yang berlawanan atau yang sangat lain dengan ekspektasi konsumen tidak akan diperhatikan.
3. Motive
Motif adalah dorongan untuk memnuhi kebutuhan. Dalam rangka memenuhi kebutuhan ini orang lebih memperhatikan sesuatu yang menurut dia dapat memenuhi kebutuhannya. Orang cenderung memasukkan stimulus yang cocok dengan motifnya kedalam persepsinya. Semakin kuat kebutuhan, semakin besar kecenderungan untuk mengabaikan stimulus yang tidak ada hubungannya dengan kebutuhan itu.
E. Pengaruh yang mendistorsi persepsi
1. Physical appearance; orang cenderung suka pada kualitas yang mereka asosiasikan dengan orang-orang tertentu yang mirip dengan mereka dalam hal-hal tertentu yang relevan.
2. Stereotype; gambaran yang selau ada dalam benak seseorang (stereotype) merupakan harapan orang tersebut akan terjadinya situasi-situasi khusus atau munculnya orang-orang tertentu atau kejadian-kejadian tertentu dlam suatu situasi.
3. Sumber-sumber yang dihormati biasa member bobot persepsi yang lebih.
4. Irrelevant cues; orang membeli sesuatu atribut produk yang sebetulnya bukan atribut inti dari produk.
5. First impression atau kesan pertama; sesuatu yang sangat berkesan sulit untuk diubah, bahkan cenderung bersifat selamanya. Perkenalan produk adalah tahap yang sangat penting yang akan masuk dalam persepsi konsumen.
6. Jumping to conclusions; seringkali oranv menyimpulkan, terutama dalam hal kinerja produk, sebelum melihat bukti-bukti yang relevan.
7. Halo effect; kesan umum yang diberikan pada interpretasi stimulus yang tidak penat.
F. Kualitas yang dipersepsi
Pada umumnya konsumen menentukan kualitas suatu produk berdasarkan pada berbagai macam issyarat informasi yang dihubungkan dengan produk tersebut.
1. Isyarat intrinsic; ukuran, warna, rasa atau aroma. Isyarat ini dianggap lebih rasional dan obyektif karena atribut ini merupakan stimulus yang dapat diterima oleh panca indera.
2. Isyarat ekstrinsik; bersifat diluar produk seperti harga, citra took, atau citra produsennya.
G. Resiko yang dipersepsi Konsumen
Resiko yang dipersepsi adalah resioko yang mempengaruhi perilaku konsumen. Resiko yang dipersepsi mencakup:
1. Functional risk atau performance risk; yaitu resiko yang bila produk tidak dapat memberikan kinerja seperti yang diharapkan.
2. Physical risk; yaitu resiko pada adiri sendiri atau orang lain yang mungkin akan diakibatkan oleh produk.
3. Financial risk; yaitu resiko bila produk tidak sesuai dengan harganya.
4. Social risk; resiko ytang ditrimbulkan bila ternyata produk yang dipilih malah menimbulkan penghinaan dan menyebabkan pperasaan malu.
5. Psychological risk; yaitu resiko bila produk malah melukai ego konsumen.
6. Time risk; yaitu resiko bila waktu yang dihabiskan untuk mendapatkan produk akan sia-sia karena kinerja produk tidak seperti yang diharapkan.
7. Resiko legal; yaitu resiko terjadinya tuntutan hokum oleh pihak ketiga.

H. Bagaimana konsumen mangatasi resiko?
Billa motivasi untuk mendapatkan produk cukup besar, untuk menghilangkan ketegangan (disharmoni) yang dialami mereka akan berusaha meyakinkan diri bahwa resiko itu tidak sedemikian besarnya dengan perilaku-perilaku berikut ini:
1. Konsumen mencari informasi
2. Brand loyality
3. Konsumen memilih berdasarkan brand image atau citra produk merek.
4. Konsumen membeli model yang paling mahal.
5. Konsumen mencari jaminan, mencoba sebelum membeli, dan sebagainya.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Persepsi konsumen, betapapun tidak logisnya adalah obyek yang sangat penting dalam pmasaran. Yang perlu diketahui disini adalah bahwa persepsi konsumen adlah proses yang rumit, tidak hanya melibatkan factor-faktor psikoloogis.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini belumlah sempurna untuk itu kritik dan saran sangat kami harapkan.

Pembentukan Dan Perubahan Sikap Konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Sikap merupakan daktor yang sangat berpengaruh dalam pengambilan keputusan beli konsumen. Oleh karena itu, pemasar sangat berkepentingan dalam hal pengetahuan tentang bagaimana terbentuknya sikap itu dan bagaimana bisa mengubahnya supaya konsumen bersikap positif terhadao /produknya dan kemudian memutuskan untuk membeli. Untuk memenagkan sikap positif itu, pemasar selalu berusahadengan berbagai macam cara teruatama dalam lkonimikasi pemasarannya utnuk mempengaruhi sikap konsumen.
B. Identifikasi masalah
Bagaimana sikap terbentuk bila diterapkan dalam perilaku konsumen ?












BAB II
PEMBAHASAN
A. Bagaimana Sikap Terbentuk
1. Pembelajaran sikap
Pada bagian bagian terdahulu telah di pelajari tentang proses pembelajaran dasar,seperti teori-teori:

• Clasissical conditioning
• Instrumental conditioning
• Cognitive Learning Theory
• Information Processing
Teori-teori tersebut di atas tidak membahas tentang bagaimana sikap terbentuk melainkan dari mana sebenarnya informasi,nasihat,dan pengaruh yang berperan dalam membentukn sikap itu diperoleh konsumen.
2. Sumber Pengaruh Terhadap Pembentuk an Sikap
Sumber-sumber utama yang mempengaruhi pembentukan sikap konsumen adalah:
a. Pengalaman
Pengalama langsung oleh konsumen dalam mencoba dan mengevaluasi produk dapat mempengaruhi sikap konsumen terhadap produktersebut.Dengan maksud ini pulalah perusahaan dalam upaya pemasarannya sering memberikan sampel Cuma-Cuma dank upon diskon bahkan beberapa merek kopi, teh, madu, dan berbagai daging goreng tepung di tawarkan pada calon konsumen di mall dan di depan pasar swalayan. Tujuannya adalah agar konsumen mengalami produk baru dan sesudah itu mengevaluasinya.Bila memuaskan,maka konsumen di harapkan akan membentuk sikap positif dan mungkin membeli produk tersebut apabila kelak mereka membutuhkanya.
b. Kepribadian
Keluarga,menurut Kindran dkk (1994) adalah factor penting dalam pembentukan kepribadian dan selanjutnya pembentukan sikap seseorang.Dalam keluarga itulah,seseorang membentuk nilai –nilai dasar dan keyakinannya.
c. Informasi dari media massa
Pengaruuh media massa tidak boeh dianggap remeh. Perusahaan menggunakan berbagaimacam media massa secara efektif untuk mempengaruhi sikap audiens merupakan konsumen atau calon konsumen perusahaan itu. Sikap dapat terbentuk dari jenis media massa yang digunakan untuk mengkomunikasikan nformasi tentang produk.

B. Strategi untuk mengubah sikap
Pendekatan ini dikenal sebagai functional approach dimana sikap dikelompokkan kedalam empat fungsi:
1. Utilitarian function
Sikap yang berfungsi utilitarian terjadi apabila konsumen menggunakan suatu produk atau brand tertentu karena produkatau brand itu memiliki kegunaan (utility) yang dapat memuaskan kebutuhannya. Untuk mengubah sikap utilitarian ini pemasar akan menekankan pada kepuasan dalam penggunaan produk.
2. Ego defensive function
Sikap yang berfungsi mempertahankan ego terjadi apabila konsumen bermaksud melindungi konsep diri terhadap keraguan, inkonsistensi dan kecemasan
3. Value expressive function
Value expressive function adalah sikap yang berfungsi mengeksprersikan nilai-nilai umum, gaya hidup dan harapan. Melalui proses classical conditioning, suatu brand diasosiasikan dengan stimulus yang dapat bverupa humor dan lain-lain.
4. Knowledge function
Dalam hal ini, orang mempunyi keingintahuan yang besar akan suatu obyek sikap karena dia percaya bahwa obyek ini dapat mempengaruhi perilaku.
a. Menautkan produk dengan suatu kelompok atau peristiwa tertentu, karena sikap paling tidak sebagian mempunyai hubungan dengan atau juga ditentukan oleh kelompok tertentu atau peristiwa tertentu.
b. Menghubungan sikap yang sudah ada denagn sikap-sikap yang berlawanan.
c. Mengubah model-model dari model multiatribut, caranya:
1. Mengubah relative evaluation of attributes
2. Mengubah brand belief
3. Menambah dan menggabung suatu atribut
4. Manambah overall brand rating
5. Mengubah keyakinan terhadap competitor’s brand yang biasa dilakukan melalui comparative advertising .
Semua uraian tentang pembentukan dan perubahan sikap tersebut diatas dilandaskanpada pandangan bahwa konsumen membentuk sikapnya dahulu baru kemudian diikuti dengan tindakan atau perilaku. Namun ada juga pandangan lain yang mendahulukan perilaku ketimbang sikap. Pandangan seperti ini tampak dalam dua teori berikut:
1. Coqnitive dissonance theory. Menurut teori ini ketidaknyamanan atau dissonance terjadi apabila seorang konsumenmemperoleh innformasi baru yang bertentangan dengan apa yang diyakini atau sikapnya yang terdahulu.
2. Attribution theory; teori ini menjelaskan bagaimana konsumen mencari penyebab dari berbagai peristiwa, baik yang ditimbulkan oleh perilakunya sendiri maupun perilaku orang lain.




















BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sikap dibentuk dari pembelajaran. Oleh karena itu sikap bisa dipengaruhi dan diubah dengan pembelajaran pula. Pembentukan sikap sangat dipengaruhi olah pengalaman, kepribadian dan juga oleh informasi untuk mengubah sikap konsumen. Pertama adalah mengubah fungsi motivasi dasar dengan cara menumbuhkan secara kuat kebutuhan-kebutuhan baru. Kedua mnautkan produk dengan suatu kelompok atau peristiwa tertentu karena sikap, paling tidak sebagian, mempunyi hubungan dengan suatu kelompok tertentu atau peristiwa tertentu.
B. Saran
Dalam pembuatan makalah ini tentunya sebagai seorang manusi memiliki bayank kekurangan, untuk itu kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi tercapainya kesempurnaan makalah ini.

Pembelajaran Konsumen

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
pembelajaran adalah aktivitas manusia yang dilakukan sepanjang hidupnya, bahkan waktu manusia didalam kandungan. Perilaku manusia termasuk, termasuk perilaku konsumsi merupakan hasil dari proses pembelajaran. Pemasar mencoba melihat proses pembelajaran ini dan mencari kiat-kiat yang mengena untuk memberikan stimulasi, informasi dan pengalaman kepada konsumen supaya konsumen belajar tentang produk mereka dan kemudian memilih produk itu untuk dibeli dan di konmsumsi.
1.2 identifikasi masalah
manusia memproses informasi dan stimulus yang diterima panca inderanya dan masuk kedalam otak sebagai persepsi yang disimpan dalam memori untuk digunakan pada waktu mereka merespons stimulus dikemudian hari. Permasalahan yang timbul adalah bagaimana memori dan perilaku diubah sebagai akibat dari pengolahan informasi, secara sadar maupun tidak sadar, yang disebut sebagai pembelajaran.





BAB II
PEMBAHASAN
2. 1 Konsep pembelajaran
Pembelajaran adalah bahasan yang mendasar dalam ilmu psikologi, Lefton (1982) mendefinisikan pembelajaran sebagai perubahan perilaku yang relative bersifat tetap, yang terjadi sebagai akibat dari pengalaman. Definisi ini membedakan antara pembelajaran dan reflex yang merupakan perilaku tidak disengaja yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus. Hal penting yang harus diperhatikan dari definisi tersebut adalah bahwa:
- pembelajaran konsumen adalah suatu proses, jadi pembelajaran ini secara terus menerus berlangsung dan terus berubah sebagai akibat dari pengetahuan yang diperoleh atau dari pengalaman yang sebenarnya
- pengetahuan baru dan pengalaman pribadai berfungsi sebagai timbal balik bagi individu dan memberikan patokan pada perilakunya dimasa yang kana datang dalam situasi yang serupa.
Jadi seperti yang dikatakan Hawkins dkk (1998) bahwa pembelajaran adalah perubahan apapun yang terjadi pada isi ataupun organisasi dalam memori jangka panjang dan atau pada perilaku adalah benar. Pembelajaran adalah hasil dari pemrosesan informasi secara sadar, tidak sadar, maupun tidak terfokus.


2.2 Dua pendekatan terhadap pembelajaran
1. teori pembelajaran perilaku ( behavioral learning theory)
Teori pembelajaran perilaku mengasumsikan bahwa pembelajaran terjadi seseorang terhadap kejadian-kejadian diluar dirinya.
a. Classical conditioning
Mahzab ini mengacu pada pembelajaran dimana stimulus yang mengakibatkan respons tertentu dipasangkan dengan stimulus lain yang pada mulanya tidak menghasilkan respons bila berdiri sendiri.
b. Pengulangan
Efek conditioning akan meningkat setelah pengulangan beberapa kali. Hanya saja ada teori yang disebut dengan three hit theory, yang mengatakan bahwa pengulangan diatas tiga kali tidak akan menghasilakn efek conditioning, namun justru akan mnegakibatkan advertising wearout atau kejenuhan dan menyebabkan hilangnya efek conditioning.
c. Stimulus generalization
Stimulus generalization berhubungan dengan kecenderungan stimulus-stimulus yang berupa stimulus yang dikondisikan dan ditampilkan untuk menghasilkan respons yang serupa pula.
d. Stimulus discrimination
Stimulus discrimination terjadi billa stimulus yang serupa denganstimulus yang dikondisikan tidak diikuti oleh stimulus yang tidak dikondisikan.
e. Instrumental conditioning (operant conditioning)
Mahzab ini mengutamakan kepuasan dalam menggunakan atau mengkonsumsi produk.
2. Teori pembelajaran koqnitif
Pendekatan teori ini menekankan kegiatan mental dalam pembelajaran, yakni bagaimana informasi yang diterimaseseorang diproses dan disimpan dalam memorinya dalam waktu yang relative lama. Pembelajaran terjadai karena adanya empat unsure yang disebut dalam hamper dalam semua teori pembelajaran. Empat unsur tersebut adalah:
a. Motivasi
Motivasi berakar pada kebutuhan dan tujuan, jadi motivasi mendorong pembelajaran.
b. Cues
Cues adalah stimulus yang mengarahkan motif. Cue mengarahkan dorongan kepada konsumen bila cue itu konsisten dengan ekspektasi konsumen.jadi, pemasar perlu berhati-hati dalam memberikan cue supaya tidak mengecewakan ekspektasi konsumen.
c. Response
Response adalah bagaimana seseorang berperilaku sebagai reaksi dari dorongan atau cue. Respons tidak terikat pada kebutuhan. Kebutuhan atau notif dapat menimbulkan berbagai macam respons.
d. Reinforcement
Reinforcement meningkatkan kemungkinan suatu respons spesifik akan muncul dimasa yang akan dating sebagai hasil dari cue atau stimulus tertentu.
3. Teori pembelajaran iconic rite (menghafal icon)
Teori ini mengatakan bahwa pembelajaran dapat terjadai tanpa conditioning.
4. Teori pembelajaran vicarious
Teori mengatakan bahwa orang belajar tanpa harus menerima ganjaran gataupun hukuman, seperti yang diyakini oleh pengikut teori instrumental conditioning. Bila seseorang melihat atau mengetahui bahwa orang lain mengalami kepuasan dalam menggunakan suatu produk, karena seolah-olah ia mengalami sendiri.
2.3 loyalitas pada merek
Menurut kindra dkk (1994) ada hubunganyang erat antara pembelajaran dan loyalitas pada merek, karena loyalitas pada merek melibatkan pertimbangan-pertimbangan koqnitif dan evaluative yang juga merupakan salah satu fungsi pengambilan keputusan beli.
Loyalitas merek adalah:
1. Respons perilaku (yaitu perilaku beli)
2. Bias (tidak random)
3. Diekspresikan dalam jangka waktu tertentu
4. Unit pengambil keputusan
5. Satu atau lebih alternate-alternatif merek yang dipilih dari seperangkat merek.
6. Fungsi dari proses psikologis.
2.4 pergeseran merek (brand switching)
Keaveney (1995) menemukan bebrapa hal sebagai hasil penelitiannya bahwa pergeseran merek muncul karena:
1. Persepsi negative terhadap kualitas produk
2. Harga
3. Ketidakpuasan dengan kinerja produk secara keseluruhan
4. Layanan dan kenyamanan yang tidak memadai ditempat penjualan
5. Memang ada maksud (intention) untuk berhenti mengkonsumsi brand yang biasa dipakai dan ingin memakai brand lain.
2.5 proses pembelajaran
Pembelajaran mmenyangkut perubahan perilaku. Perubahan ini dapat langsung terjadi pada saat setelah pembelajaran atau lama setelah saat pembelajaran. Berikut ini beberapa pokok yang perlu diperhatikan supaya pembelajaran konsumen terhadap data tentang produk atau merek lebih efektif.
1. Pesan iklan dengan aspek-aspek yang unik akan lebih mudah di ingat. Aspek-aspek yang unik tidak mudah dilupakan.
2. Urutan sajian pesan mempengaruhi bagaimana informasi itudisimpan,. Dan biasanya pesan bagian tengah lebih mudah dilupakan.
3. Pesan yang mednorong pengulanganakan lebih mudah disimpan.
4. Besar kecilnya jumlah data yang dapat dikirim ke memori jangka panjang tergantung pada waktu memprosesnya.
5. Lebih banyak data yang disimpan dalam memori bila data tersebut disajikan dalam pengglan-penggalan.
6. Memori tergantung pada isyarat dan sajian isyarat tertentu dalam iklan akan mendorong pengingatan kembali.
7. Data yang disimpan dalam memori jangka panjang bisa lain dari pesan yang disampaikan dalam situasi pembelajaran.
8. Data yang mengandung arti bagi individu akan lebih cepat dipelajari sehingga berpotensi lebih untuk disimpan dalam memori jangka panjang.













BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pembelajaran konsumen merupakan proses yang mengubah perilaku beli mereka. Ada bebrapa pndekatan tentang pembelajaran, yaitu: teori pembelajaran berdasarkan perilaku yang didalamnya ada classical conditioning dan instrumental conditioning yang meyakini bahwa manusia belajar dari trial and error. teori pembelajaran vicarious mengatakan bahwa orang belajar dengan mengikuti perilaku orang lain seakan dia sudah mengalaminya sendiri.
3.2 saran
Makalah ini belum sempurna untuk itu kritik dan saran sangat kami butuhkan