Tampilkan postingan dengan label Manajemen Agribisnis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Agribisnis. Tampilkan semua postingan

Manajemen Dalam Agribisnis

Pada prinsipnya setiap kegiatan yg dilaksankan oleh manusia untuk mencapai suatu tujuan tertentu selalu berupaya agar kegiatan tsb dpt dilaksanakan secara efektif dan efisien. Untuk mencapai hal tersebut kegiatan kerja perlu dilaksanakan secara sistematis & terencana. Di lain pihak, keterbatasan kemampuan manusia dlm melaksanakan kegiatan tsb, maka perlu kerja sama.

Inilah Filosofi mengapa manajemen di butuhkan.
George R Terry : Manajemen adalah proses yg khas, terdiri dari kegiatan perencanaan, pengorganisasian, menggerakkan, dan pengawasan yg dilaksanakan untuk menentukan serta mencapai sasaran yg telah ditetapkan dgn bantuan manusia dan sumber-sumber daya lain.
Mary Parker Follet : Mnj adalah seni untuk melakukan pekerjaan melalui orang-orang.

Inti Pokok Manajemen
Dari definisi di atas, ada tiga hal pokok dlm manajemen, yaitu sbb.
  1. Ada tujuan yg hendak dicapai.
  2. Tujuan dicapai dengan menggunakan kegiatan orang lain.
  3. Kegiatan tsb harus dibimbing dan di awasi.
  4. Berdasarkan penjelasan tadi, diketahui bahwa Manajemen adalah Ilmu dan seni. Manajemen sebagai ilmu berfungsi menerangkan gejala-gejala, kejadian-kejadian, dan keadaan-keadaan yg ada. Sedangkan manajemen sebagai seni berfungsi mengajarkan kepada kita bagaimana melaksanakan sesuatu hal mencapai tujuan yg nyata-nyata mendatangkan hasil atau manfaat
Fungsi Manajemen
  1. Perencanaan (planning)
  2. Pengorganisasian (organizing)
  3. Pengarahan (directing)
  4. Pengkoordinasian (coordinating)
  5. Pengawasan (controlling)
Perencanaan (Planning)
Di definisikan sbg hasil pemikiran yg mengarah ke masa depan, menyangkut serangkaian tindakan berdasarkan pemahaman yg mendalam terhadap semua faktor yg terlibat & yang diarahkan kpd sasaran khusus.
Adanya Planning memberikan pandangan yg menyeluruh terhadap pekerjaan yg harus dilakukan & dpt menjadi tuntutan bagi pencapaian tujuan organisasi yg telah ditetapkan menjadi efektif dan efisien.
Keunggulan Perencanaan
  1. Mengurangi ketidakpastian di masa yang akan datang.
  2. Selalu menfokuskan perhatian pada tujuan.
  3. Memperoleh tindakan yg terkoordinasi dari berbagai bagian krn adanya tujuan.
  4. Pemanfaatan metode kerja yg kebih efisien dan efektif sehingga mengurangi biaya.
  5. Sebagai pedoman untuk melakukan pengawasan karena perencanaan menghasilkan standar yg dapat dipakai sebagai alat pengukur hasil kerja.
  6. Pendelegasian kekuasaan untuk dapat bertindak lebih lancar, karena adanya prosedur yg telah ditentukan terlebih dahulu.
Perencanaan ditinjau dari bentuknya
  1. Sasaran/tujuan
  2. Strategi
  3. Kebijakan (policy)
  4. Prosedur
  5. Aturan
  6. Program
Perencanaan yg baik harus mampu menjawab 5 W+1 H

  1. Tindakan apa yg harus dilaksanakan (What)
  2. Mengapa hal tersebut dilaksanakan (Why)
  3. Di manakah hal tersebut dilaksanakan (Where)
  4. Kapan hal tersebut dilaksanakan (When)
  5. Siapa yang akan melaksanakan (Who)
  6. Bagaimana hal tersebut akan dilaksanakan (How)

Perencanaan ditinjau dari bentuknya
Suatu perencanaan yg baik perlu memiliki sifat-sifat, sbb
  1. Rasional
  2. Fleksibel
  3. Kontinu
Ada enam langkah dalam proses perencanaan, yaitu :

  1. Mengumpulkan fakta dan informasi yg berkaitan dgn situasi dan kondisi yang ada.
  2. Menganalisis situasi dan masalah yang terlibat.
  3. Memperkirakan perkembangan yg akan terjadi.
  4. Menetapkan tujuan dan hasil.
  5. Mengembangkan alternatif sebagai arah tindakan & memilih alternatif yg paling sesuai.
  6. Mengevaluasi kemajuan.
Pengorganisasian (Organizing)
Pengorganisasian meliputi langkah-langkah untuk :
  1. Menentukan struktur.
  2. Menentukan pekerjaan yg harus dilaksanakan.
  3. Memilih, menempatkan dan melatih karyawan.
  4. Merumuskan garis kebijakan.
  5. Membentuk sejumlah hubungan di dalam organisasi dan kemudian menunjuk stafnya.
Ada tiga hubungan dasar dalam pengorganisasian, yaitu :
  1. Tanggung Jawab.
  2. Wewenang.
  3. Pertanggungjawaban.


Pengarahan
Pengarahan dapat diartikan sbg aspek hub manusiawi dalam kepemimpinan yg mengikat bawahan untuk bersedia mengerti dan menyumbangkan pikiran dan tenaganya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan yg telah ditetapkan.

Menurut Downey dan Erickson (1992), pengarahan bertujuan untuk :
  1. Menentukan kewajiban dan tanggung jawab
  2. Menetapkan hasil yang harus dicapai.
  3. Mendelegasikan wewenang yang diperlukan.
  4. Menciptakan hasrat untuk berhasil
  5. Mengawasi agar pekerjaan benar-benar dilaksanakan sebagaimana mestinya.
Fungsi pengarahan dapat juga diartikan secara lebih luas, yaitu sebagai tugas untuk membuat organisasi tetap hidup, untuk menciptakan kondisi yg menumbuhkan minat kerja, kekuatan untuk bertindak, pemikiran yg imajinatif dan kelompok kerja yg berkelanjutan.

Kepemimpinan pada dasarnya ada 3 gaya, yaitu sbb.
  1. Kepemimpinan yang otoriter
  2. Kepemimpinan yang kebebasan
  3. Kepemimpinan yang demokratis.
Pengoordinasian
Dalam suatu organisasi sering terjadi tujuan masing-masing anggota berbeda satu sama lain, padahal organisasi disusun untuk mencapai tujuan bersama. Oleh karena itu berbagai pendapat perlu dipadukan dalam suatu tindakan koordinasi.
Koordinasi merupakan daya upaya untuk mensinkronkan dan menyatukan tindakan-tindakan sekelompok manusia.

Pengawasan (Controlling)
Pengawasan digunakan untuk mengukur seberapa jauh hasil yang telah dicapai sesuai dengan apa yang telah direncanakan.
Pelaksanaan Pengawasan meliputi kegiatan :
  1. Menentukan standar
  2. Mengukur dan membandingkan hasil kerja terhadap standar.
  3. Memperbaiki penyimpangan, jika ada.
Prinsip-Prinsip Manajemen
  1. Pembagian Kerja (Division of Work)
  2. Kekuasaan/Wewenang dan Tanggung jawab.
  3. Disiplin
  4. Kesatuan Perintah (Unity of Command)
  5. Kesatuan Arah (Unity of Direction)
  6. Kepentingan Individu di Bawah Kepentingan Bersama
  7. Pembayaran Upah yang Adil
  8. Pemusatan (centralization)
  9. Batas Kekuasaan (Line of Authority)
  10. Tata tertib
  11. Keadilan.
  12. Inisiatif
  13. Jiwa Kesatuan (Esprit de Corps)

PRINSIP-PRINSIP EKONOMI DALAM AGRIBISNIS

TEORI PERMINTAAN
Ahli ekonomi mengatakan bahwa permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan dari hubungan antara harga dan jumlah permintaan. Sedangkan jumlah barang yang diminta dimaksudkan sebagai banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu.

Jadi permintaan merupakan keinginan konsumen untuk membeli suatu barang pada berbagai tingkat harga selama periode waktu tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan antara lain :
  1. harga barang itu sendiri
  2. Harga barang lain yang terkait.
  3. Tingkat pendapatan per kapita
  4. Selera atau kebiasaan
  5. Jumlah Penduduk
  6. Perkiraan harga di masa mendatang
  7. Distribusi Pendapatan
  8. Usaha-usaha produsen meningkatkan pendapatan.
Dx = f { Px, Py, Y, T, N }

Hukum permintaan pada hakikatnya menyatakan bahwa makin rendah harga suatu barang, makin banyak permintaan atas barang tersebut ; sebaliknya makin tinggi harga suatu barang makin sedikit permintaan atas barang tersebut.



Teori Penawaran
Dalam analisis ekonomi, jumlah barang yang ditawarkan pada tingkat harga tertentu, sedangkan penawaran berarti keseluruhan dari kurva penawaran.
Teori Penawaran
Faktor-faktor yang mempengaruhi penawaran adalah :
  1. Harga barang itu sendiri
  2. Harga barang lain yang terkait
  3. Harga faktor produksi
  4. Biaya produksi
  5. Teknologi produksi
  6. Jumlah pedagang
  7. Tujuan perusahaan
  8. Kebijakan pemerintah
Sx = f { Px, Py, Pi, C, tek, ped, tuj, kebij }

Hukum penawaran pada dasarnya menyatakan bahwa semakin tinggi harga suatu barang makin banyak jumlah barang tersebut yang akan ditawarkan oleh para penjual, sebaliknya makin rendah harga suatu barang makin sedikit jumlah barang tersebut yang ditawarkan oleh para penjual

Elastisitas
Konsep elastisitas digunakan untuk mengukur sampai Seberapa besar tingkat perubahan jumlah unit barang yang diminta atau tingkat perubahan jumlah unit barang yang ditawarkan sebagai akibat adanya Perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya.

Jenis Elastisitas
Pada hakikatnya elastisitas dapat dibagi menjadi dua, yaitu :
  1. Elastisitas Permintaan
  2. Elastisitas Penawaran
Akan tetapi, tidak semua faktor yang mempengaruhi perubahan permintaan atau penawaran dapat diukur.Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan yang biasa diukur antara lain :

  1. Harga barang yang bersangkutan.
  2. Harga barang lain yang bersangkutan.
  3. Pendapatan konsumen
Elastisitas Permintaan
Elastisitas permintaan mengukur perubahan relatif alam Jumlah unit barang yang dibeli sebagai akibat adanya perubahan salah satu faktor yang mempengaruhinya.
Elastisitas permintaan dibagi tiga, yaitu :
  1. Elastisitas Harga
  2. Elastisitas Silang
  3. Elastisitas Pendapatan
Elastisitas Penawaran
Elastisitas penawaran adalah angka yang menunjukkan berapa persen jumlah barang yang ditawarkan berubah, apabila harga barang berubah 1% Faktor-faktor yang mempengaruhi Elastisitas Penawaran antara lain sbb :
  1. Jenis produk
  2. Sifat perubahan biaya produksi
  3. Jangka waktu
  4. Tingkat bunga
  5. Upah
  6. Harga bahan baku
Macam-macam Elastisitas
  • Inelastis (Es < 1) B. Elastis (Es > 1)
  • Elastisitas Uniter (Es = 1)
  • Inelastis Sempurna (Es = 0)
  • Elastis sempurna (Es = tdk terhingga)

Analisis Permintaan & Penawaran
Masalah jangka panjang pertanian adalah penurunan peran dan produksi sektor pertanian. Penurunan peranan sektor pertanian tersebut ditimbulkan oleh dua faktor, yaitu :
  1. Permintaan yang lambat perkembangannya
  2. Kemajuan teknologi di sektor pertanian yang memungkinkan peningkatan produktivitas yang tinggi.
Dalam jangka pendek harga hasil pertanian cenderung mengalami fluktuasi yang sangat besar. Harga mencapai tingkat yang tinggi pada suatu saat dan mengalami kemerosotan yang tajam pada saat berikutnya.
Ketidakstabilan harga tersebut dalam jangka pendek disebabkan oleh :
  1. Fluktuasi Permintaan
  2. Fluktuasi Penawaran

KELEMBAGAAN AGRIBISNIS

Kelembagaan ialah sekumpulan jaringan dan relasi sosial yg melibatkan orang, memiliki tujuan tertentu, memiliki norma, serta memiliki struktur. Kelembagaan mengandung dua aspek yakni ”aspek kultural” dan ”aspek struktural”. Aspek kultural terdiri dari hal-hal yang lebih abstrak yang menentukan “jiwa” suatu kelembagaan yaitu nilai, norma, dan aturan, kepercayaan, moral, ide, gagasan, doktrin, keinginan, kebutuhan, orientasi, dan lain-lain Sementara, aspek struktural lebih statis, yang berisi struktur, peran, hubungan antar peran, integrasi antar bagian, struktur umum, struktur kewenangan, hubungan kegiatan dengan tujuan, aspek solidaritas, keanggotaan, profil, kekuasaan, dan lain-lain.

Pada prinsipnya suatu relasi sosial dapat dikatakan kelembagaan apabila memiliki empat komponen :
  1. Komponen orang/person
  2. Komponen Kepentingan
  3. Komponen aturan
  4. Komponen struktur.

Pembagian Kelembagaan
Kelembagaan Usaha Tani umumnya terdiri dari :
  1. Rumah Tangga Petani
  2. Kelompok Petani
  3. Perusahaan Budidaya
Kelembagaan Pasca panen umunya terdiri dari :
  1. Jasa Pengolahan hasil
  2. Usaha Agroindustri

Kelembagaan Pemasaran Hasil terdiri dari :
  1. Kelembagaan pemasaran di lokasi
  2. Kelembagaan pemasaran di luar wilayah
Kelembagaan Penunjang umumnya terdiri dari :
  1. Kelembagaan Permodalan
  2. Kelembagaan Penyuluh pertanian
Prinsip Dasar Penumbuhan Kelembagaan
  1. Prinsip bertolak atas kenyataan yang ada (existing condition). Tiap masyarakat memiliki sejarahnya sendiri. Kondisi yang ada harus menjadi dasar pengembangan.
  2. Prinsip kebutuhan. Pertanyaan yang harus dijawab adalah: apakah memang perlu sebuah lembaga? Apakah, masyarakat memang sungguh-sungguh membutuhkan? Apakah itu lebih ekonomis? Jika tidak perlu, mungkin dapat disatukan dengan lembaga lain.
  3. Prinsip berpikir dalam kesisteman. Selalulah mengimajinasikan sistem ”laboratorium agribisnis” secara keseluruhan. Apapun kelembagaan yang dibangun di dalamnya mestilah didasarkan kepada analisa sistem tersebut. Jangan berpikir parsial dan temporal.
  4. Prinsip partisipatif. Pembentukan kelembagaan yang didasarkan atas keinginan dan kesadaran sendiri tentu akan menumbuhkan rasa memiliki yang sesungguhnya..
  5. Prinsip efektifitas. Kelembagaan hanyalah alat, bukan tujuan. Jadi, berpikirlah pada hasil akhir. Membangun kelembagaan (baru atau revitalisasi yang lama) harus dapat diposisikan sebagai salah satu langkah menuju tujuan tersebut.
  6. Prinsip efisiensi. Pertimbangan dalam memilih kelembagaan adalah keefisienan. Apakah dengan membentuk satu lembaga baru akan lebih murah, lebih mudah, dan lebih sederhana?
  7. Prinsip fleksibilitas. Tidak ada acuan baku. Bagaimana kelembagaan akan dibentuk harus sesuai dengan sumberdaya yang ada, kondisi yang dihadapi, keinginan dan kebutuhan petani, serta kemampuan petugas pelaksana.
  8. Prinsip orientasi pada nilai tambah atau keuntungan. Opsi yang dipilih adalah yang mampu memberikan nilai tambah atau keuntungan paling besar bagi seluruh pelaku agribisnis yang terlibat, terutama pelaku di pedesaan.
  9. Prinsip desentralisasi. Setiap sel dalam sistem harus mampu beroperasi dengan kewenangan cukup, sehingga kreatifitasnya dapat berkembang optimal.
  10. Prinsip keberlanjutan. Pada akhirnya model harus mampu membangun kekuatannya sendiri dari dalam. Ia akan tetap mampu beroperasi, meskipun input atau dukungan dari luar berkurang.
Mengacu pada 10 prinsip dasar di atas maka penumbuhan Kelembagaan memiliki dua sifat yaitu:
  • penumbuhan elemen kelembagaan tidak harus sama di setiap lokasi, tetapi disesuaikan dengan kebutuhan, kapasitas sumberdaya dan budaya setempat
  • elemen lembaga yang dikembangkan tidak harus bentukan baru tetapi dapat merupakan pengembangan dari elemen lembaga yang sudah ada.
Pengertian Badan Usaha
Suatu unit kegiatan produksi yang mengelolah sumber-sumber ekonomi atau faktor produksi untuk menyediakan barang dan jasa bagi masyarakat dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dan memuaskan kebutuhan masyarakat.

Badan Usaha Menurut Lapangan Usahanya
  1. Badan Usaha Pertanian. Yaitu badan usaha yang bergerak di bidang pengelolaan tanah, misalnya pertanian, perkebunan, peternakan
  2. Badan Usaha Perdagangan, yaitu badan usaha yang bergerak di bidang pembelian barang untuk dijual kembali, tanpa mengubah sifat dan bentuk barang.
  3. Badan Usaha Industri, yaitu badan usaha yang bergerak di bidang pengolahan bahan mentah menjadi barang jadi/stengah jadi.
  4. Badan Usaha Ekstraktif, yaitu Badan usaha yang usahanya menggali, mengambil, atau mengumpulkan kekayaan alam, seperti penambangan pasir, penebangan hutan.
  5. Badan Usaha Jasa, yaitu badan usaha yang usahanya memberikan atau menyewakan jasa kepada orang lain. Misal perusahaan transportasi, asuransi, bank.

POTENSI DAN KENDALA PENGEMBANGAN AGRIBISNIS

Pembangunan Ekonomi yang berubah
Pertanian Primer Industrialisasi
(on farm Agribisnis) (Agroindustri)

Perubahan tersebut ditandai dengan ciri-ciri:
  1. Berubahnya orientasi kegiatan ekonomi dari orientasi peningkatan produksi kepada orientasi pasar
  2. Berkembangnya kegiatan ekonomi yang mengelola dan memperdagangkan produk dan hasil usahatani di pasar domestik maupun pasar internasional.
  3. Makin kuatnya keterkaitan antara kegiatan produksi dan perdagangan usahatani dengan kegiatan pengolahan hasil dgn konsumen
  4. Perubahan penggerak utama ekonomi berbasis sumberdaya hayati dari sebelumnya motor penggeraknya adalah usahatani beralih ke industri pengolahan hasil usaha tani (agribisnis hilir)
Agribisnis di Indonesia
Secara umum Agribisnis di indonesia dipengaruhi oleh 2 faktor :
  1. Faktor Internal Dalam negeri.
  2. Faktor Eksternal Luar Negeri.
Hal ini ditunjang dengan adanya :

  1. Produksi dan konsumsi
  2. Permintaan dan Penawaran
Dari Sisi Penawaran
  1. Indonesia memiliki keanekaragaman hayati (Biodiversity) baik di daratan maupun di lautan. Sekitar 80% gen keanekaragaman hayati dunia di Indonesia, Brazil dan Zaire. Dengan kekayaan tersebut dapat menghasilkan banyak komoditas agribisnis.
  2. Indonesia memiliki komoditas perkebunan dimana beberapa komoditas yg ada, Indonesia diperkirakan menjadi produsen terbesar dunia pada komoditas minyak kelapa sejak 1995, kemudian produsen terbesar komoditas minyak sawit, dan menjadi produsen karet terbesar di dunia.
  3. Indonesia memiliki sumber daya perikanan berupa sumber daya perairan seluas 5-7 km2 dan garis pantai 91.000 km yg terpanjang di dunia terdapat 17 wilayah penangkapan ikan, 14 diantaranya untuk penangkapan berlebih, sedangkan 3 wilayah tergolong daerah tingkat penangkapan rendah, sehingga bagus untuk pengembangan agribisnis.
Dari Sisi Permintaan
  1. Konsumsi perkapita produk agribisnis di indonesia masih tergolong rendah, selain konsumsi bahan pokok. Rendahnya konsumsi ini disebabkan masih rendahnya pendapatan per kapita masy. Tapi di masa mendatang pendapatan perkapita diperkirakan di atas $ 2500, sehingga akan meningkatkan konsumsi produk agribisnis. Dengan jumlah penduduk 220 juta merupakan pasar agribisnis yang sangat besar.
  2. Di pasar internasional peluang agribisnis cukup besar. Ada dua fenomena yg menyebabkan meningkatnya pasar agribisnis pada pasar internasional : Liberalisasi perdagangan dunia, penghapusan kebijakan proteksi seperti tarif, subsidi dan berbagai nontarif barrier perdagangan produk agribisnis.
Tantangan Agribisnis
Globalisasi Perdagangan
  1. Brg harus berdaya saing (mutu)
  2. Penghapusan subsidi
  3. Penghapusan tarif
  4. Market Oriented (orientasi Pasar)
Kondisi Dalam negeri
  1. Kurangnya SDM
  2. Penggunan Teknologi yang minim
  3. Subsidi faktor produksi dihapus (pupuk)
  4. Orientasi produksi & konsumsi
Kendala Agrisbisnis
  1. Resiko Usaha yang tinggi.
  2. Penguasaan teknologi
  3. Kesenjangan dalam pertumbuhan
  4. Inovasi kelembagaan
  5. Langkahnya wirausahawan agribisnis
  6. Perubahan Iklim global (global warming, menipisnya lapisan ozon)
  7. Krisis pangan dunia.
Potensi
  1. Sumber daya alam yg melimpah
  2. Sebagian besar masy bergantung pada produk pertanian.
  3. Penyedia terbesar komoditas ekspor pangan.
  4. Penyumbang pendapatan/devisa negara
Kelemahan
  1. Minim penggunaan teknologi
  2. SDM ahli yang terbatas.
  3. Pengembangan agribisnis yang tidak merata.
  4. Kebijakan yg tidak berbasis pertanian tapi lebih ke industri & jasa.
Peluang
  1. Sebagian besar produk agribisnis adalah komoditas ekspor.
  2. Indonesia sebagai pasar komoditas pertanian yang besar
Ancaman
  1. Perubahan iklim global.
  2. Produk luar negeri yang berdaya saing
  3. Produk luar lebih murah.

Perkembangan Dan Peran Agribisnis Di Indonesia

Agribisnis di Indonesia
Kegiatan agribisnis telah ada sejak sebelum adanya Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I. Akan tetapi kegiatan utamanya adalah Agribisnis Usahatani yg lebih dikenal dgn istilah pertanian.
Dalam PJP I, kegiatan Pertanian semakin maju sehingga mampu mendorong agroindustri dan perdagangan. Hal ini seolah-olah agroindustri dan perdagangan menyesuaikan diri dgn pertanian. Dalam PJP ini, Ujung tombak pengembangan agribisnis adalah usahatani
Sedangkan dalam PJP II ujung tombaknya non usahatani, yaitu agroindustri dan perdagangan. Pada saat sekarang posisi antara usahatani dan non usahatani seimbang (50%, 50%). Jadi, agroindustri dan perdagangan sbg ujung tombak pengembangan agribisnis masih dlm tahap belajar.

Kegiatan pertanian pada PJP I lebih menekankan untuk menjual dan memproses apa yg dihasilkan.. Jadi, hanya produksi yg dikembangkan. Pada PJP II kegiatannya produksi untuk dpt dijual, Yaitu produksinya menyesuaikan dgn permintaan Industri dan agroindustri.
Perkembangan Agribisnis
Pembangunan sistem Agribisnis bukan saja sebagai pendekatan baru pembangunan, tetapi perlu dijadikan penggerak utama (grand strategy) Pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Hal ini didasarkan Karena alasan berikut :
  1. Amanat Konstitusi dan landasan politis
  2. Sektor Pertanian memberi sumbangan yg besar pd PDB
  3. Sektor Pertanian merupakan sebagian besar mata pencaharian penduduk indonesia.
  4. Sektor Pertanian mampu menyediakan keragaman menu pangan sehingga mempengaruhi konsumsi & gizi masy.
  5. Sektor Pertanian mampu mendukung sektor industri
  6. Sektor Pertanian merupakan salah satu penyumbang Devisa
Fase perkembangan Agribisnis

  • Faze Konsolidasi (1967-1978) Pada fase ini sektor pertanian tumbuh 3,39%, lebih banyak disebabkan kinerja subsektor tanaman pangan dan perkebunan yg tumbuh 3,58% dan 4,53%. Tiga kebijakan yg penting pada fase ini adalah (Intensifikasi) ialah penggunaan teknologi, (Ekstensifikasi) atau perluasan area yg mengkoversi hutan tdk produktif, (Diversifikasi) adalah penganekaragaman usaha agribisnis untuk menambah pendapatan rumah tangga petani.
  • Fase Tumbuh Tinggi (1978-1986) Pada periode ini perkembangan agribisnis sektor pertanian tumbuh lebih dari 5,7 %. Peningkatan produksi pangan, perkebunan, perikanan, peternakan hampir mencapai angka produksi 6,8 % dan puncaknya mencapai swasembada pangan.
  • Fase Tumbuh Tinggi (1978-1986) Pada periode ini perkembangan agribisnis sektor pertanian tumbuh lebih dari 5,7 %. Peningkatan produksi pangan, perkebunan, perikanan, peternakan hampir mencapai angka produksi 6,8 % dan puncaknya mencapai swasembada pangan.
  • Fase Dekonstruksi (1986-1997) Pada fase ini sektor pertanian mengalami kontraksi pertumbuhan di bawah 3,4 % pertahun, berbeda dgn tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena mengalami pengacuhan oleh perumusan kebijakan akibat anggapan keberhasilan swasembada pangan telah menimbulkan persepsi pengembangan agribisnis akan bergulir dengan sendirinya.
  • Fase Krisis (1997-2001) Meskipun sektor pertanian menjadi penyelamat ekonomi indonesia karena limpahan lonjakan nilai tukar dollar yg dinikmati komoditas ekspor sektor pertanian terutaman perkebunan & perikanan. Daya tahan sektor pertanian tdk cukup kuat karena harus menanggung dampak krisis untuk menyerap limpahan tenaga kerja sektor informal dan perkotaan.
  • Fase Desentralisasi (2001-sekarang) Transisi politik dan periode Desentralisasi ekonomi menimbulkan banyaknya perda dan terlalu banyaknya penyimpangan administratif/korupsi yang terjadi di daerah dan banyaknya biaya tambahan dalam berhubungan dgn birokrasi pemerintahan (survey LPEM-FEUI).
Peran Agribisnis Dalam Era Pembangunan
Memberikan sumbangan yang nyata sistem Agribisnis bagi perekonomian Indonesia dalam bentuk :
  1. Hasil Produksi Pertanian.
  2. Pasar.
  3. Faktor Produksi.
  4. Kesempatan Kerja
  5. Sumbangan hasil produksi : Swasembada Beras sejak tahun 1984.
  6. Sumbangan pasar : Besarnya pangsa pasar domestik yang mendukung daya beli masy. Pedesaan.
  7. Sumbangan Faktor Produksi : penyediaan tenaga kerja, modal, bahan baku industri.
  8. Sumbangan kesempatan kerja : tingginya daya serap tenaga kerja.
  9. Pada akhir PJP II, diharapkan transformasi struktur agribisnis, dari on-farm activities menjadi off-farm activities
  10. Transformasi ekonomi dari basis pertanian ke ekonomi basis industri menempatkan Indonesia menjadi negara bercorak agribisnis (agro-base industry: industri minyak sawit, industri kayu lapis dan sejenisnya).
  11. Peran agribisnis di masa datang tetap penting sbg penyedia pendapatan nasional & lapangan kerja.
Pengembangan Agribisnis
  • Kegiatan agribisnis strategis bagi rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakaian.
  • Produk Agribisnis sulit di substitusi oleh produk lain.
  • Bila tergantung pada impor agribisnis negara lain, maka negara akan lumpuh.
Kegiatan Agribisnis berkaitan dengan isu pokok :
  • Masalah Lingkungan hidup
  • Peningkatan dan pemerataan pendapatan
  • Kesempatan kerja.
  • Pengembangan sistem agribisnis menjadi tuntutan logis dalam perkembangan keadaan perekonomian.
Perkembangan permintaan terhadap produk pertanian tidak hanya dalam jumlah, tapi juga dalam hal :
  • Keragaman jenis
  • Peningkatan mutu
  • Kontinuitas jumlah
  • Kesesuaian tempat
  • Kemasan
  • Pengangkutan
  • Mekanisme Pemasaran
  • Kesesuaian Waktu

Sistem Manajemen Agribisnis

Sistem adalah seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan, sehingga membentuk totalitas.
Contoh : di dalam tubuh manusia terdapat organ-organ tubuh, antara lain hati, paru-paru, jantung, ginjal, otak usus, dll. Setiap organ memiliki fungsi yg berbeda, namun memiliki saling ketergantungan. Bila terdapat salah satu organ yg rusak, maka fungsi tubuh secara keseluruhan menjadi terganggu.
Contoh : Mobil yg merupakan rangkaian komponen dari mesin, karburator, dynamo, radiator dan memiliki fungsi yg berbeda.
Pengertian Sistem Agribisnis
Agribisnis sbg suatu sistem adalah agribisnis merupakan seperangkat unsur yg secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas.
Dapat disimpulkan bahwa agribisnis terdiri dari berbagai subsistem yang tergabung dalam rangkaian interaksi dan terorganisir dalam suatu totalitas.
Pembagian Sub Sistem Agribisnis

A. Sub sistem Agribisnis Hulu
Industri yg menghasilkan sarana produksi (input) pertanian seperti industri Agro Kimia (pupuk, pestisida, obat-obatan hewan). Industri Agro Otomotif (alat dan mesin pertanian, alat dan mesin pegolahan hasil pertanian) dan Industri pembibitan/pembenihan tanaman/hewan.

B. Sub Sistem Produksi Pertanian/Usaha Tani
Usaha tani yg meliputi budidaya pertanian tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan dan perkebunan

C. Sub Sistem Pengolahan Hasil Pertanian
Kegiatan industri yg mengolah hasil pertanian menjadi produk olahan baik produk antara maupun produk akhir. Dan menyangkut keseluruhan kegiatan mulai dari penanganan pasca panen produk pertanian sampai pada tingkat pengolahan lanjutan dengan maksud untuk menambah value added (nilai tambah) dari produksi primer tersebut.

D. Sub Sistem Pemasaran
Kegiatan ekonomi yg berkaitan dgn kegiatan distribusi, promosi, informasi pasar, kebijakan perdagangan dan struktur pasar.

E. Sub Sistem Kelembagaan Penunjang
Kegiatan ekonomi yg menyediakan jasa atau layanan yg diperlukan untuk memperlancar pengembangan bisnis. Seperti Lembaga perkreditan, asuransi, penelitian, pengembangan, pendidikan, dan penyuluhan, serta transportasi dan pergudangan

On farm activities (Usaha Tani) : Budidaya Pertanian.
Off farm activities (Luar Usaha Tani) :
 Pengadaan sarana produksi
 Agroindustri Pertanian
 Pemasaran dan Jasa-jasa Penunjang

Agribisnis dalam Industrialisasi Pertanian
Beberapa Pendapat ttg Industrialisasi Pertanian
Tambunan & Priyanto (2005) : bahwa industrialisasi Di indonesia selalu dimulai dr industri besar, dan krg memperhatikan usaha kecil. Akibatnya saat ini indonesia belum menunjukkan tanda” sbg Negara industri yg mandiri.
Pengalaman negara” maju di eropa dan jepang menunjukkan bhw mereka memulai industrialisasi bersamaan dgn pembangunan sektor pertanian. Contoh revolusi industri di inggris di awali dgn revolusi pertanian yg terjadi melalui introduksi teknologi turnip.
Contoh Industrialisasi di jepang berlangsung bersamaan dgn revolusi pertanian yg terjadi melalui reformasi Agraria (restorasi Meiji)
Simatupang & Syafaat (2000) : salah satu penyebab krisis ekonomi di indonesia adalah krn kesalahan industrialisasi yg tidak berbasis pd pertanian. Selama krisis jg terbukti sektor pertanian masih mampu mengalami laju pertumbuhan yg positif
Peluang Sektor Pertanian dalam proses Industrialisasi

Beberapa Alasannya (Tambunan, 2001):
  1. Sektor pertanian yg kuat berarti ketahanan pangan terjamin dan merupakan salah satu prasyarat penting agar proses industrialisasi pertanian pada khususnya dan pembangunan ekonomi pada umumnya bisa berlangsung dgn baik. Ketahanan pangan berarti tidak ada kelaparan dan ini menjamin kestabilan sosial politik.
  2. Dari permintaan agregat, pembangunan sektor pertanian yg kuat membuat tingkat pendapatan riil per kapita di sektor tersebut tinggi yg merupakan salah satu sumber permintaan thdp brg” nonfood, khususnya manufaktur (keterkaitan konsumsi atau pendapatan)
  3. Dari sisi Penawaran, sektor pertanian merupakan salah satu sumber input bagi sektor sektor industri pertanian yg mana indonesia memiliki keunggulan komparatif, misalnya industri makanan dan minuman, industri tekstil dan pakaian jadi, industri kulit
Pertimbangan Akselerasi Sektor Pertanian
  1. Sektor pertanian masih tetap sebagai penyerap tenaga kerja , sehingga akselerasi pembangunan sektor pertanian akan membantu mengatasi masalah pengangguran.
  2. Sektor pertanian merupakan penopang utama perekonomian desa dimana sebagian besar penduduk berada. Oleh karena itu, akselerasi pembangunan pertanian paling tepat untuk mendorong perekonomian desa dalam rangka meningkatkan pendapatan sebagian besar penduduk indonesia sekaligus pengentasan kemiskinan.
  3. Sektor pertanian sebagai penghasil makanan produk penduduk, sehingga dengan akselerasi pembangunan pertanian maka penyediaan pangan dapat terjamin.
  4. Harga produk pertanian memiliki bobot yg besar dlm indeks harga konsumen, sehingga dinamikanya amat berpengaruh terhadap laju inflasi.
  5. Akselerasi pertanian dalam rangka mendorong ekspor dan mengurangi impor produk pertanian, sehingga dalam hal ini dapat membantu menjaga keseimbangan neraca pembayaran.
  6. Akselerasi pembangunan pertanian mampu meningkatkan kinerja sektor Industri. Hal ini karena terdapat keterkaitan yg erat antara sektor pertanian dgn sektor industri yg meliputi keterkaitan produk, konsumsi dan investasi
Karena:
Kabinet Indonesia bersatu menetapkan Program Pembangunan dgn Strategi 3 jalur (triple track strategy) sbg manifestasi Pembangunan yg lebih Pro-Growth, Pro-Employment dan Pro-Poor.
1. Peningkatan pertumbuhan ekonomi di atas 6,5 % melalui percepatan investasi dan ekspor.
2. Pembenahan sektor riil u/ mampu menyerap tambahan angkatan kerja dan menciptakan lapangan kerja baru.
3. Revitalisasi Pertanian dan Pedesaan untuk berkontribusi pada pengentasan kemiskinan.