Perkembangan Dan Peran Agribisnis Di Indonesia

Agribisnis di Indonesia
Kegiatan agribisnis telah ada sejak sebelum adanya Pembangunan Jangka Panjang (PJP) I. Akan tetapi kegiatan utamanya adalah Agribisnis Usahatani yg lebih dikenal dgn istilah pertanian.
Dalam PJP I, kegiatan Pertanian semakin maju sehingga mampu mendorong agroindustri dan perdagangan. Hal ini seolah-olah agroindustri dan perdagangan menyesuaikan diri dgn pertanian. Dalam PJP ini, Ujung tombak pengembangan agribisnis adalah usahatani
Sedangkan dalam PJP II ujung tombaknya non usahatani, yaitu agroindustri dan perdagangan. Pada saat sekarang posisi antara usahatani dan non usahatani seimbang (50%, 50%). Jadi, agroindustri dan perdagangan sbg ujung tombak pengembangan agribisnis masih dlm tahap belajar.

Kegiatan pertanian pada PJP I lebih menekankan untuk menjual dan memproses apa yg dihasilkan.. Jadi, hanya produksi yg dikembangkan. Pada PJP II kegiatannya produksi untuk dpt dijual, Yaitu produksinya menyesuaikan dgn permintaan Industri dan agroindustri.
Perkembangan Agribisnis
Pembangunan sistem Agribisnis bukan saja sebagai pendekatan baru pembangunan, tetapi perlu dijadikan penggerak utama (grand strategy) Pembangunan Indonesia secara keseluruhan. Hal ini didasarkan Karena alasan berikut :

  1. Amanat Konstitusi dan landasan politis
  2. Sektor Pertanian memberi sumbangan yg besar pd PDB
  3. Sektor Pertanian merupakan sebagian besar mata pencaharian penduduk indonesia.
  4. Sektor Pertanian mampu menyediakan keragaman menu pangan sehingga mempengaruhi konsumsi & gizi masy.
  5. Sektor Pertanian mampu mendukung sektor industri
  6. Sektor Pertanian merupakan salah satu penyumbang Devisa
Fase perkembangan Agribisnis

  • Faze Konsolidasi (1967-1978) Pada fase ini sektor pertanian tumbuh 3,39%, lebih banyak disebabkan kinerja subsektor tanaman pangan dan perkebunan yg tumbuh 3,58% dan 4,53%. Tiga kebijakan yg penting pada fase ini adalah (Intensifikasi) ialah penggunaan teknologi, (Ekstensifikasi) atau perluasan area yg mengkoversi hutan tdk produktif, (Diversifikasi) adalah penganekaragaman usaha agribisnis untuk menambah pendapatan rumah tangga petani.
  • Fase Tumbuh Tinggi (1978-1986) Pada periode ini perkembangan agribisnis sektor pertanian tumbuh lebih dari 5,7 %. Peningkatan produksi pangan, perkebunan, perikanan, peternakan hampir mencapai angka produksi 6,8 % dan puncaknya mencapai swasembada pangan.
  • Fase Tumbuh Tinggi (1978-1986) Pada periode ini perkembangan agribisnis sektor pertanian tumbuh lebih dari 5,7 %. Peningkatan produksi pangan, perkebunan, perikanan, peternakan hampir mencapai angka produksi 6,8 % dan puncaknya mencapai swasembada pangan.
  • Fase Dekonstruksi (1986-1997) Pada fase ini sektor pertanian mengalami kontraksi pertumbuhan di bawah 3,4 % pertahun, berbeda dgn tahun sebelumnya. Hal ini terjadi karena mengalami pengacuhan oleh perumusan kebijakan akibat anggapan keberhasilan swasembada pangan telah menimbulkan persepsi pengembangan agribisnis akan bergulir dengan sendirinya.
  • Fase Krisis (1997-2001) Meskipun sektor pertanian menjadi penyelamat ekonomi indonesia karena limpahan lonjakan nilai tukar dollar yg dinikmati komoditas ekspor sektor pertanian terutaman perkebunan & perikanan. Daya tahan sektor pertanian tdk cukup kuat karena harus menanggung dampak krisis untuk menyerap limpahan tenaga kerja sektor informal dan perkotaan.
  • Fase Desentralisasi (2001-sekarang) Transisi politik dan periode Desentralisasi ekonomi menimbulkan banyaknya perda dan terlalu banyaknya penyimpangan administratif/korupsi yang terjadi di daerah dan banyaknya biaya tambahan dalam berhubungan dgn birokrasi pemerintahan (survey LPEM-FEUI).
Peran Agribisnis Dalam Era Pembangunan
Memberikan sumbangan yang nyata sistem Agribisnis bagi perekonomian Indonesia dalam bentuk :
  1. Hasil Produksi Pertanian.
  2. Pasar.
  3. Faktor Produksi.
  4. Kesempatan Kerja
  5. Sumbangan hasil produksi : Swasembada Beras sejak tahun 1984.
  6. Sumbangan pasar : Besarnya pangsa pasar domestik yang mendukung daya beli masy. Pedesaan.
  7. Sumbangan Faktor Produksi : penyediaan tenaga kerja, modal, bahan baku industri.
  8. Sumbangan kesempatan kerja : tingginya daya serap tenaga kerja.
  9. Pada akhir PJP II, diharapkan transformasi struktur agribisnis, dari on-farm activities menjadi off-farm activities
  10. Transformasi ekonomi dari basis pertanian ke ekonomi basis industri menempatkan Indonesia menjadi negara bercorak agribisnis (agro-base industry: industri minyak sawit, industri kayu lapis dan sejenisnya).
  11. Peran agribisnis di masa datang tetap penting sbg penyedia pendapatan nasional & lapangan kerja.
Pengembangan Agribisnis
  • Kegiatan agribisnis strategis bagi rakyat untuk memenuhi kebutuhan pangan, pakaian.
  • Produk Agribisnis sulit di substitusi oleh produk lain.
  • Bila tergantung pada impor agribisnis negara lain, maka negara akan lumpuh.
Kegiatan Agribisnis berkaitan dengan isu pokok :
  • Masalah Lingkungan hidup
  • Peningkatan dan pemerataan pendapatan
  • Kesempatan kerja.
  • Pengembangan sistem agribisnis menjadi tuntutan logis dalam perkembangan keadaan perekonomian.
Perkembangan permintaan terhadap produk pertanian tidak hanya dalam jumlah, tapi juga dalam hal :
  • Keragaman jenis
  • Peningkatan mutu
  • Kontinuitas jumlah
  • Kesesuaian tempat
  • Kemasan
  • Pengangkutan
  • Mekanisme Pemasaran
  • Kesesuaian Waktu

0 komentar:

Poskan Komentar

Komentar yang menggunakan Anonymous tidak akan mendapatkan respon.!! thanks..